قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. Az-Zumar, Ayat 53).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Seandainya kalian berbuat dosa sehingga tumpukan dosa itu setinggi langit kemudian kalian benar-benar bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian.” (Shahih Ibnu Majah)
Allah ta’ala berfirman, yang artinya
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)
Tobat bukanlah perkara yang selesai hanya dengan penyesalan sesaat, melainkan proses panjang yang menuntut kewaspadaan hati. Ibnul Jauzi rahimahullah mengingatkan, “Seorang yang berakal semestinya senantiasa merasa takut akibat dosa-dosa yang telah diperbuatnya, meskipun dia sudah bertobat darinya dan menangisinya…” (Shaidul Khaathir). Rasa aman berlebihan terhadap diterimanya tobat justru dapat melahirkan kemalasan dan kelalaian.
Para ulama salaf menjelaskan bahwa tobat memiliki tahapan hingga puncaknya, dimulai dari meninggalkan dosa besar dan kecil, lalu meningkat hingga membersihkan hati dari segala niat selain mengharap rida Allah. Karena itu, tobat tidak hanya berkaitan dengan perbuatan lahir, tetapi juga dengan kondisi batin.
Dosa sendiri terbagi menjadi dosa besar dan kecil sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Salat lima waktu, salat Jumat yang satu hingga salat Jumat yang berikutnya, puasa Ramadan yang satu hingga puasa Ramadan yang berikutnya adalah menjadi penghapus bagi dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)
Meski demikian, dosa kecil tidak boleh diremehkan. Para ulama menegaskan, “Tidak ada dosa besar jika diiringi dengan istigfar. Dan tidak ada dosa kecil apabila dilakukan secara terus menerus.” Meremehkan dosa, merasa gembira dengannya, atau menceritakannya kepada orang lain justru dapat memperbesar bahayanya.
Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya senantiasa menjaga rasa takut, memperbarui tobat, dan tidak tertipu oleh kelapangan yang Allah berikan, karena itu bisa jadi adalah kesempatan terakhir untuk kembali kepada-Nya.
Mari kita sambut bulan Ramadhan dengan meniti jalan taubat secara sungguh-sungguh. Semoga Allah menerima taubat kita dan menjadikan akhir yang baik bagi kita semua. Aamiin. sabiluna.com
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Demi Allah, aku benar-benar beristighfar kepada Allah dan bertobat kepadaNya dalam sehari lebih dari 70 kali. (HR. Bukhari No. 6307)